Mantra Pitulungan



Lampu-lampu mobil menghantam mata, tanpa ampun
Roda-roda bergerak kesetanan dikejar hujan

Di atas jok motor yang keras, setir motor terkendali dua tangan tanpa perasaan
Tatapan sekadar adanya, sekedar demi tidak celaka
Rasa dan logika telah tergerus, mungkin setelah ini aku mampus.

Suara dalam kepala terus mendesak minta dijawab.
"Apa yang membuatmu kecewa?"
Lidah tercekat. Mata memanas. 
"Aku hanya tidak ingin gila."

Mata-mata air keruh membuncah, menciptakan genangan
Air-air mata resah menguar, membasuh kenangan

Suara itu muncul lagi. Berulangkali bak mantra:
"Berdamailah 
Berdamailah
Berdamailah
Berdamailah dengan dirimu."

Comments

Popular posts from this blog

Genting